Selasa, 30 Desember 2008

Nilai tambah Bagi Petani Salak

Kripik buah pada umumnya dan salak pondoh khusunya diolah dengan menggunakan teknologi Vacum. Yakni dalam tabung tertutup dengan tekanan 2 Atm dan suhu pemanasan hanya 85 derajat Celsius. Dengan penerapan teknologi Vacum Fryng ini bisa membuat salak pondoh memiliki nilai tambah.

Kita lihat saja, salak pondoh pada musim panen harganya 4.000 sampai 5.000 untuk ukuran kualitas paling bagus. Dalam vacum kapasitas 10 kg jika dimasukkan salak mentah 5 Kg, maka akan dihasilkan kripik salak kira-kira 1,2 kg. Jika kripik ini dikemas dengan berat 100 g (1 ons) akan menjadi 12 bungkus dan jika dijual dengan harga rata-rata Rp. 15.000 - 17.000 tiap 100 g, maka akan didapatkan sebanyak Rp. 180.000 - 204.000.

Mari bandingkan, tanpa proses ini harga mentah salak pondoh hanya senilai 5.000 dikali 5 kg = 25..000. Nah, jika sudah diolah menjadi kripik, harganya akan naik menjadi 180.000. Ini dengan asumsi harga Rp. 15.000. Di pasaran, atau di pusat oleh-oleh di konter bakpia patuk 75 misalnya, kripik ini dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi mencapai 25.000 per ons.

Tingginya harga ini dikarenakan, teknologinya yang memang mahal. Satu alat vacum saja dengan kapasitas 10 kg mencapai 40 juta. Mahal banget kan.... Belum ditambah biaya listrik dan biaya minyak plus tenaga. Wajar jika saat ini harga kripik buah pada umumnya masih cukup tinggi. Semoga ada mahasiswa yang bisa membuat mesin ini dengan biaya yang lebih rendah. 10 juta saja misalnya.... tentu harga kripik ini akan menjadi semakin murah dan memudahkan para petani salak kita memproduksi secara masal. Selain bisa dikonsumsi di dalam negeri, kripik salak ini tentu bisa di export. Ke Malaysia misal, atau ke negara lain yang memang nggak ada salak pondoh yang khas banget Indonesia ini.

Masyarakat makmur.... lebih sejahtera. Dan tentunya akan semakin meningkatkan angka HDI negeri kita yang saat ini hampir berada pada urutan paling bontot! kalah dengan vietnam dahkan Bangladesh! Sudah saatnya bangga dengan produk sendiri. Selain lebih sehat, tentu lebih nasionalis gitchu.....! Bangsa Jaya, petani Sejahtera!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar